Perjalanan Memasuki Dunia Coaching
Saya memutuskan untuk memperkaya ilmu dan kompetensi dengan belajar ilmu coaching.
Terus ada teman yang bereaksi begini: “Hah? Ngapain lo jadi coach?” katanya. “Lo kan udah coach, bang! Jam terbang lo udah lebih banyak dari umur gue,” kata dia lagi. Entah dia sedang memuji atau menyindir usia saya.
Tapi mari kita bicara soal coaching.
Secara sederhana, coaching itu proses kolaboratif yang membantu seseorang untuk mengeluarkan atau memaksimalkan potensi pribadi dan professionalnya. Menariknya, seorang coach melakukannya dengan menstimulasi pemikiran dan proses kreatif orang yang dia coaching dengan metode tertentu, terutama lewat rangkaian pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya provokatif.
Nah, ngomong-ngomong soal pertanyaan, ini dia masalahnya waktu mulai belajar coaching. Saya datang dengan keyakinan bahwa kemampuan bertanya itu sudah menjadi bagian dari hidup saya selama puluhan tahun. Profesi yang saya geluti dari sejak kuliah memang menuntut kemampuan mewawancarai narasumber, menggali cerita, mengarahkan percakapan, memandu narasumber untuk mengeluarkan semua cerita-ceritanya. "Ah, ini mah makanan sehari-hari gue!"
Tapi baru tiga hari pertama memulai pelatihan dasar, patah berkeping-keping semua keyakinan itu. Tiga hari pelatihan dasar, malah terasa seperti sebuah jeda panjang di kepala saya. Seolah ada tangan yang menepuk-nepuk pundak saya sambil bilang, “Beda ya, bos? Pelan-pelan saja. Nanti juga ketemu selahnya. Lemesin aja bos..”
Ego saya mulai diuji sejak hari pertama pelatihan bersama para Master Coach. Rangkaian pertanyaan yang saya lontarkan ke coachee saat latihan terdengar seperti pertanyaan wawancara di media. Terlalu mengarah. Terlalu ingin cepat mendapatkan klarifikasi karena keterbatasan waktu. Terlalu ingin memimpin percakapan. Terlalu mau tahu. Terlalu kepo.
Satu fakta lagi. Coaching ternyata adalah proses kolaboratif antara si coach dengan coachee atau yang dicoaching. Bukan show! Bukan! Ini berbeda jauh dengan konsep wawancara di podcast, radio, televisi atau media lainnya yang tujuannya adalah memastikan supaya obrolan saya dengan siapa saja itu bisa diikuti, dinikmati dan membawa manfaat oleh orang lain yang menonton atau mendengarkan obrolan kami. Coaching Bukan acara omon-omon.
Coaching itu bukan audience-centric. Bukan tentang penonton atau pendengar, dan pastinya bukan tentang saya. Saya harus belajar mendengar tidak hanya kata-kata yang tersurat, tetapi jeda, setiap nada, tarikan nafas, ekspresi, keheningan. Keheningan yang biasanya saya isi dengan kalimat supaya tidak dead air, kini harus saya biarkan bekerja sendiri. Di titik ini saya sadar bahwa coaching adalah tentang kehadiran.
Coaching manfaatnya hanya untuk orang yang kita coach. Karena itu bahkan pemilihan kalimat dalam bertanya pun harus dipikirkan matang supaya tidak membentuk asumsi atau penilaian. Para coach berpengalaman yang melatih kami menunjukkan keahliannya dalam bertanya. Bukan sembarang pertanyaan tapi pertanyaan provokatif yang memicu orang berfikir untuk menemukan jalannya sendiri.
Inilah momen yang menyadarkan kalau saya sedang masuk ke dunia yang menuntut versi diri saya yang berbeda. Bukan berarti versi si Rane yang puluhan tahun jadi jurnalis, podcaster atau storyteller itu salah. Tapi berbeda tujuan. Bahkan saya menemukan adanya beberapa ilmu coaching yang bisa diaplikasikan di jurnalisme, wawancara atau podcast.
Malam itu sepulang training, saya membuka lagi buku jurnal saya. Jurnal baru khusus untuk merekam perjalanan belajar jadi coach yang masih sangat panjang. Jurnal yang bahkan baru tiga hari isinya sudah seperti catatan kuliah sebulan.
Saya balik halaman baru yang masih putih segar dan disitu saya menulis dengan huruf besar-besar:
"Hari ini saya datang dengan penuh percaya diri. Tapi pulang dengan kerendahan hati."
Tangerang Selatan,
24 November 2025
Special thanks to the amazing Master Coaches at Loop Institute of Coaching!

.