Home | Blog | Contact | "Dari Rane"

ᵔᴥᵔ Rane

Menoleh ke Depan

"Menoleh ke depan." Saya pernah bermasalah dengan editor saya dulu waktu mengajukan judul ini untuk laporan akhir tahun. Katanya, judul ini menyalahi kaidah bahasa Indonesia daripada yang mana baik dan benar. Akhirnya waktu itu judulnya kembali ke judul standar awal tahun yang membosankan: "Kaleidoskop, bla bla bla.."

Sekarang saya memakai lagi judul Menoleh ke Depan, karena memang itu yang sedang terjadi, dan itu pula yang ingin saya ceritakan kali ini.

Jadi begini.

Dari semua perkiraan tren-tren yang bakal ramai di 2026, ada dua hal yang menarik perhatian saya.

Yang pertama soal AI. Pelan-pelan tapi pasti, ia membuat kita tidak lagi melihat dunia dengan cara yang sama. Soal ini, saya akan bahas terpisah nanti.

Yang kedua, ini yang paling menarik buat saya. Tren anak-anak muda sekarang yang menyukai hal-hal vintage atau nostalgia. Dari cara berpakaian, sampai kembali ke hal-hal berbau analog. Mulai membaca majalah, menulis di atas kertas dengan pena, fotografi film, mendengarkan musik lewat piringan hitam atau kaset. Menurut saya, ini akan semakin ramai di 2026.

Sekarang sudah terasa kenapa saya memilih judul Menoleh ke Depan, ya.

Anyway, pertanyaannya sekarang: Kenapa ya anak-anak Gen Z menyukai hal-hal vintage dan nostalgia? Mereka bahkan belum lahir ketika itu.

Jawaban paling sederhana adalah soal estetika. Lucu, keren, unik. Nostalgia bagi mereka adalah wujud visual, gaya, selera.

Tapi saya merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar estetika.

Buat saya, identitas vintage ini adalah bentuk perlawanan. Resistensi.

Anak-anak sekarang hidup dalam era serba cepat. Media sosial yang tidak pernah tidur. Notifikasi yang terus menyala. Algoritma yang mengatur hidup mereka dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semuanya serba artifisial. Hidup mereka diatur dan direduksi menjadi metrik, data, likes, view, engagement.

Di sisi lain, masa depan mereka tidak memberi janji yang jelas. Mereka, dan kita juga, hidup di era krisis iklim, krisis ekonomi, dan krisis identitas.

Jangankan mereka. Saya yang satu kaki masih menginjak dunia analog dan satu kaki lagi di dunia digital saja sudah merasa capek sekali.

Dunia yang makin ngebut sekarang membuat saya sering kangen masa lalu. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena ritmenya lebih pelan. Alon-alon asal kelakon. Itu ciri khas dunia yang masih analog.

Jadi, mungkinkah anak-anak muda itu sekarang meminjam sifat-sifat dunia yang tidak pernah mereka alami, sebagai cara bertahan di dunia yang mereka warisi ini?

Mungkinkah dunia analog, bagi mereka, adalah metafora tentang hidup dengan ritme yang lebih manusiawi?

Mungkinkah ini cara mereka bertahan?

Dan mungkinkah, lewat istilah slow living yang sedang tren itu, mereka sebenarnya sedang menyampaikan sebuah pesan?

Kalau iya, selamat datang, adik-adik. Eh, anak-anakku.

Saran saya, nikmati saja. Tapi jangan sampai terlalu betah. Dunia yang semakin cepat adalah keniscayaan zaman kalian sekarang. Tapi justru remnya ada di tangan kalian. Ini era kalian. Kalau tidak cocok, lawan. Bentuk dunia kalian sendiri. Jangan mau diatur sama orang-orang yang tidak memahami dunia kalian.

Meminjam masa lalu untuk slow living itu tidak masalah. Tapi jadikan hanya sebagai perhentian. Jeda. Rehat sebentar, lalu kembali lagi. Jangan serahkan dunia ini sepenuhnya pada orang-orang serakah yang hanya tahu cara memperalat kalian untuk kepentingan mereka sendiri.

Memang, di dunia yang serba cepat ini, terus berlari itu melelahkan.

Dan ini salah satu cara saya berhenti sejenak. Rileks. Mendengarkan kaset. Lagu-lagu dari masa lalu yang suaranya mungkin tidak sekeren audio digital, tapi memberi rasa nyaman.

Tangerang Selatan,
4 Januari 2026

Oya, ngomong-ngomong soal kaset, saya baru publish satu episode podcast soal itu. Silakan dengar di sini kalau berminat.

.