Home | Blog | Contact | "Dari Rane"

ᵔᴥᵔ Rane

Kaset dan Dunia yang Semakin Cepat

Saya baru saja membeli ini: Philips TAR5109 – portable recorder and cassette player. Alat pemutar kaset.

Bukan karena butuh. Bukan juga karena koleksi. Jujur saja, ini pembelian impulsif gara-gara iklannya tiba-tiba lewat begitu saja di timeline Instagram saya. Pokoknya begitu melihat iklannya, jari saya bergerak lebih cepat dari kepala.

Begitu alat ini sampai, saya buka bungkusnya, lalu spontan muncul pertanyaan: buat apa saya membeli ini?

Dulu, kaset adalah benda yang sangat akrab. Kita hidup dengan suara berisik pita yang diputar, yang kadang kusut dan harus digulung pelan-pelan. Ada tombol rewind dan fast forward yang membuat kita harus menunggu. Kalau ingin mendengarkan lagu favorit, ya harus sabar sampai pita berhenti di titik yang sesuai. Itupun perlu intuisi tersendiri untuk bisa sampai tepat di bagian yang dicari.

Tapi dulu, semua itu saya anggap sebagai sesuatu yang biasa. Teknologi memang seperti itu adanya.

Hal yang menarik justru terjadi saat saya mencoba memakai benda ini di masa kini.

Saya memasukkan kaset lagu favorit yang masih saya simpan, menekan tombol play, lalu berhenti karena bukan lagu yang saya inginkan. Saya fast forward, berhenti lagi, play, ternyata kelewatan. Rewind, menunggu lagi. Di saat itu muncul rasa yang tidak terduga: Gelisah. Tidak sabar. Ada dorongan refleks untuk mempercepat, untuk melompat, untuk langsung ke bagian yang saya mau. Padahal benda ini tidak salah apa-apa. Ia bekerja persis seperti dulu.

Di situ saya sadar, masalahnya bukan pada cassette tape recorder ini. Masalahnya ada pada saya. Atau lebih tepatnya, pada tempo hidup saya hari ini.

Dunia sekarang melatih kita untuk selalu cepat. Pesan instan, video-video pendek di ponsel. Saya bahkan pernah tersenyum sendiri ketika sedang menonton di bioskop, tiba-tiba merasa tidak sabar dengan alur ceritanya dan ingin mem-fast forward. Kebiasaan menonton YouTube atau Netflix, mungkin.

Di tengah dunia seperti itu, benda ini terasa asing. Bukan karena usang. Ini produk baru, saya membelinya dalam kondisi baru, bukan barang bekas. Tapi karena benda ini menolak ikut terburu-buru.

Pengalaman ini membuat saya berpikir tentang istilah slow living yang sering kita dengar belakangan. Banyak orang membayangkannya sebagai gaya hidup estetik: duduk santai, secangkir kopi hangat di tangan, menemani sore yang tenang.

Namun pengalaman sederhana dengan kaset ini justru memberi saya pemahaman lain.

Slow living bukan soal memperlambat dunia. Itu hampir mustahil. Slow living mungkin lebih dekat pada kesediaan kita untuk belajar menunggu. Menunggu apa pun itu, termasuk menunggu saat saya sedang fast forward atau rewind kaset untuk sampai ke lagu yang saya inginkan.

Dulu, kesabaran dilatih tanpa sadar. Hari ini, kesabaran harus dipilih. Dan itu ternyata jauh lebih sulit.

Akhirnya, saat melihat pemutar kaset ini, saya masih bertanya-tanya: mau saya apakan benda ini? Secara teknologi jelas sudah tertinggal. Harga kaset pun sekarang relatif mahal. Beberapa waktu lalu saya membeli kaset kosong, dan cukup terkejut melihat harganya, hanya untuk sekadar bernostalgia.

Namun ada satu hal yang jelas. Benda ini, yang bagi kantong saya sekarang tergolong mahal, justru mengajarkan bahwa kadang yang kita butuhkan di zaman sekarang, termasuk oleh orang-orang seusia saya, bukan kembali ke masa lalu, melainkan tahu kapan harus berhenti sejenak di masa kini.

Bukan karena dunia harus melambat. Bukan pula karena slow living sedang menjadi tren. Tetapi mungkin, sesekali, kita memang perlu berhenti sebentar, memejamkan mata, menarik napas, menghembuskannya, lalu kembali menyelam ke kehidupan.

Mungkin itu yang akan membuat kita tetap punya kendali. Bukan kendali atas dunia yang jelas semakin cepat, tetapi kendali atas diri sendiri. Kapan ingin melaju, kapan perlu melambat, dan kapan harus berhenti sejenak. Karena terus berlari itu melelahkan, kawan.

Tangerang Selatan,
14 Desember 2025

~ Versi audio podcast dari artikel ini bisa didengarkan utuh di sini.