Waktunya Ganti Kalender Lagi
Sebuah surat untuk gue di masa lalu
Ne,sebentar lagi 2025 selesai. Aneh ya, dulu kalimat seperti itu terasa besar sekali, sekarang terdengar biasa saja.
Ingat tidak dulu tahun baru kita seperti apa? Setelah berita jam tujuh malam, satu-satunya channel televisi pemerintah mulai menayangkan acara tahun baru. Ada artis-artis ibukota yang menghibur, pelawak-pelawak yang kocaknya minta ampun, sampai artis-artis cilik idola kita yang bikin mata tidak berkedip sama sekali di depan TV.
Saat pergantian tahun tiba, suara hitung mundur terdengar. Lima, empat, tiga, dua, satu. Selamat tahun baru! Rasanya ajaib, seperti masuk lorong waktu, seperti besok dunia akan berubah. Minimal besok libur sekolah. Itu saja sudah cukup bikin senang.
Waktu kecil, kita tidak pernah memikirkan apa yang sudah lewat. Tidak ada refleksi. Tahun berganti seperti membuka halaman baru tanpa membaca ulang halaman sebelumnya. Semua terasa ringan karena tidak ada yang dibawa, apalagi dijadikan beban.
Tapi pelan-pelan, ketika mulai dewasa, makna pergantian tahun ikut berubah. Tidak lagi terasa seperti masuk lorong waktu, lebih seperti seremoni. Hitung mundur tetap ada. Sorak sorai tetap kencang, bersaing dengan suara petasan di luar. Setelah pesta selesai, kita tidur. Besoknya bangun dan bertemu hari yang biasa. Hari yang memang membawa harapan, tapi harapan itu sebenarnya sama seperti hari-hari lainnya.
Mungkin bukan tahunnya yang berubah, Ne. Mungkin cara kita memberi makna yang ikut bergeser.
Sekarang, setiap kali menoleh ke tahun yang mau lewat, rasanya kepala ini penuh. Banyak hal yang ingin dilewati begitu saja, tapi tidak bisa. Banyak catatan yang tersisa tanpa sempat dirapikan, saking berantakannya.
Ne, catatan paling penting di 2025 adalah kita hidup di bawah pemerintahan baru. Jujur saja, itu bukan pilihan gue, dan itu tidak masalah. Harus sportif. Tapi bicara soal sportifitas, tetap ada sisa rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang. Terutama soal sosok wakilnya, anak presiden sebelumnya, yang naik lewat cara yang di mata gue, jelas mengakali konstitusi supaya bisa ikut bertarung, dan menang pula. Cara itu dilakukan terang-terangan, seolah kita rakyat ini dianggap bodoh semua. Yang aneh, bukan hanya peristiwanya, tapi betapa cepatnya kita lupa. Seolah ingatan kolektif punya umur yang makin pendek, atau memang sengaja dialihkan dengan peristiwa lain.
Ada juga cerita tentang pengiritan. Kata itu sering sekali diucapkan tahun ini. Anggaran dipotong sana sini. Program-program dikurangi. Tapi di saat yang sama, proyek-proyek besar yang menelan biaya besar tetap berjalan. MBG misalnya. Tahun ini anak sekolah diberi makan siang gratis. Semua. Dari sekolah elite sampai sekolah di kampung. Kebayang dong besarnya biaya yang harus dihabiskan. Padahal kalau difokuskan ke yang benar-benar membutuhkan, rasanya bisa lebih tepat. Tapi ya begitulah. Sudah terlanjur jadi janji pemilu. Masalahnya, semuanya seperti dikejar target dan banyak yang tidak siap. Terburu-buru. Akibatnya sudah bisa ditebak. Masalah muncul di mana-mana. Yang paling berat, program ini menelan korban keracunan. Tapi kita tetap lupa, bahkan ketika itu baru saja terjadi. Yang tersisa di berita hanyalah angka. Statistik. "Nol koma nol nol sekian," kata mereka yakin. Kadang gue bertanya, sejak kapan nyawa manusia bisa terdengar semantap itu ketika dibacakan.
Ngomong-ngomong soal nyawa manusia, 2025 ditutup dengan bencana di Sumatera. Banjir bandang. Kayu-kayu gelondongan besar hasil penebangan hutan terseret arus dan menghantam rumah-rumah sampai hancur. Sulit menyebut ini sekadar musibah. Terlalu banyak jejak keserakahan di belakangnya. Penebangan yang dibiarkan bertahun-tahun. Peringatan yang bahkan tidak sempat masuk telinga.
Ini bencana yang parah, Ne. Rasanya kita belum pernah diingatkan sejelas ini. Dulu memang ada tsunami besar yang tidak terduga. Tapi banjir bandang di Sumatera kali ini tidak pantas disebut bencana alam. Ini bencana akibat ulah manusia. Alam seperti sedang menuding kita langsung. Ratusan nyawa kembali menjadi statistik. Sementara orang-orang di atas sibuk berkoar tentang kebanggaan karena tidak membutuhkan bantuan negara lain. Janji akan membereskan ini dan melestarikan itu. Padahal yang sekarang saja belum beres. Orang-orang yang kehilangan rumah masih kebingungan. Belum lagi gaya bicara para petinggi yang tidak sensitif, lagi-lagi seolah kita dianggap tidak punya akal sehat.
Di tengah semua itu, gue juga melihat satu hal lain. Orang-orang tampak makin lelah. Mudah tersulut. Cepat marah. Dunia terasa bising, bukan karena terlalu banyak suara, tapi karena terlalu sedikit yang benar-benar mau mendengar. Mungkin kita semua sedang capek, Ne, dan tidak tahu harus berhenti di mana.
Tapi bencana di Sumatera itu juga menegaskan satu hal. Semakin banyak orang biasa yang dengan cepat turun membantu. Bahu-membahu. Mengumpulkan uang dan tenaga. Kita saling bantu, walaupun tetap saja dibuat ribet oleh aturan, izin, dan pajak. Bodo amat. Orang tetap turun membantu. Itu keren. Buat gue, kalau ada satu kalimat yang menggambarkan tahun 2025, kalimat itu adalah WARGA JAGA WARGA. Rakyat bantu rakyat. Kita bisa kok.
Mungkin karena itu juga, Ne, gue makin merasa bahwa pergantian tahun bukan lagi soal pesta atau sorak sorai. Bukan soal hitung mundur atau petasan. Tapi soal berhenti sebentar, melihat apa yang masih kita punya, dan apa yang masih bisa kita lakukan.
Kita mungkin tidak lagi menyambut tahun baru dengan petasan. Tapi selama masih bisa duduk sebentar, mengingat tanpa menyangkal, dan menatap ke depan tanpa berteriak, mungkin itu sudah cukup.
Karena itu, sejak beberapa tahun terakhir, gue jarang mengucapkan selamat tahun baru di media sosial. Ah, lo pasti belum tahu ya apa itu media sosial. Nanti gue ceritain. Tapi beberapa tahun belakangan, ucapan gue hampir selalu sama: "Selamat ganti kalender!"
Yah semoga kalender 2026 gambarnya bagus-bagus ya, Ne. Seperti kalender artis-artis cilik yang dulu menggantung di kamar kita. Setiap bulan kalendernya dirobek dan dijadikan sampul buku tulis.
Tangsel, 31 Desember 2025